Tiffany & Co.: Dari Rumah Perhiasan Legendaris Dunia ke Kontroversi di Indonesia
Apa yang disampaikan oleh Purbaya, Menteri keuangan RI mengenai Perusahaan Bernama Tiffany & Co yang dituduh melakukan penggelapan pajak, barangkali tidak terlalu menghebohkan Masyarakat di Indonesia. Karena tidak akan banyak warga RI yang pernah masuk ke toko ini, karena menjual produk yang memang sangat jauh dari kemempuan dompet warga negara RI. Tapi disinilah kontroversi atau plot twist berkembang.
Tiffany & Co ini bukanlah Perusahaan ecek ecek, pemiliknya adalah group LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton asal Perancis, owner-nya Bernard Arnaultt adalah salah seorang terkaya dimuka bumi ini. Arnault mengakuisisi dari Perusahaan Charles Lewis Tiffany dan John B. Young rumah perhiasan mewah asal Amerika Serikat yang didirikan pada 1837 di New York. Dari nama pendirinyalah nama Tiffany & Co berasal.
Produk yang jual hanya brand dari perhiasan emas dan berlian, jam tangan, tas, parfum dan kacamata premium. Target pasar utamanya tentu konsumen kelas atas yang membeli karena butuh status simbol bukan karena fungsi-nya. Bedalah dengan segmen pengunjung Mall di Jatinegara atau Klender. Tiffany hanya membuka outlet di kawasan elit Jakarta seperti di Plaza Senayan, Plaza Indonesia dan Pacific Place. Ceruk pasarnya tentu sangat kecil secara kuantitas tetap sangat berkualitas.
Outlet mereka yang exclusive ini kemudian berubah heboh dan disinilah plot twist itu berasal. Pada 11 Februari 2026, Perusahaan multinasional yang biasanya menjadi acuan tentang kepatuhan regulasi, sekarang disangkakan melakukan praktik under invoicing (melaporkan nilai barang lebih rendah dari nilai sesungguhnya) yang berpotensi menimbulkan kerugian negara triliunan rupiah.
Tuduhan praktek curang ini pasti akan menimbulkan risiko finansial, Tiffany terancam sanksi denda hingga 1.000% dari nilai pajak impor. Bagi customer premium yang sangat menjaga privacy-nya tentu saja akan menghindar bertransaksi dengan Perusahaan yang dalam sengketa hukum ini. Pasti mereka akan sangat menghindar kalau ikut terseret kasus ini, apalagi dipanggil sebagai saksi. Dampak perbuatan mereka ini bisa pada level sustainabilitas Tiffany di Indonesia. Brand mahal yang kontroversial.

Komentar
Posting Komentar