Belajar dari Menantea, viral saja tidak cukup tanpa membangun sistem

 Belajar dari kasus Menantea, Viral saja tidak cukup tanpa membangun sistem

Akhirnya Menantea menutup seluruh gerainya setelah pendirinya, Jerome Polin dan Jehian terbelit dengan  rangkaian masalah pengelolaan yang sangat serius. padahal pada masa puncaknya menantea sempat memiliki lebih dari 200 outlet di berbagai wilayah Indonesia. 

Menantea ini dimiliki oleh Jerome polin dan Jehian sebagai satu entitas bersama tiga orang lainnya, mereka bersama sama sebagai pemegang saham. Coba kita pelajari apa yang terjadi dan dapat dijadikan bahan pelajaran, terutama bagi yang berencana membuka bisnis denga cara kemitraan atau franchise.

mengapa menantea ini akhirnya dilikuidasi, dari mendengar podcast Leon Hartono dan Jehian, ada beberapa faktor penyebabnya.  

Franchise abal abal.

Tidak semua operator yang menawarkan franchise berniat baik sejak awal, ada sebagian operator yang memang hanya berniat mendapatkan fee franchise dan kemudian membiarkan bisnis franchisor itu tumbuh sendiri, seolah olah tidak bertanggung jawab lagi. Janji disaat awal si pembelli franchise akan menikmati bisnis autopilot dan BEP dalam waktu 6 bulan itu hanya Gimmick untuk mendapatkan investor. mereka yang menjadi target adalah yang pertama kali berbisnis dan masih awam dengan pengelolaan bisnis.

Spesialisasi yang mematikan

Pada kasus menantea, seperti yang dijelaskan oleh Jehian, masing masing pemegang saham memiliki spesialisasi, Jerome dan Jehian spesial dalam bidang marketing karena memang disitulah kelebihan mereka. masyarakat mengenal Menantea karena ada nama Jerome Pollin. namun jerome tidak memiliki akses ke laporan keuangan. urusan finasial dipegang oleh pemegang saham lainnya. Jerome dan Jehian baru tahu kalau ada masalah finansial setelah adanya PHK terhadap sebagian karyawan Menantea.

Hubungan kemitraan  lemah

Dalam bisnis franchise/kemitraan, kalau masalah mitra sudah banyak dan berulang, biasanya akar persoalannya ada pada seleksi mitra, kejelasan SOP, pengawasan, atau pembagian hak-kewajiban yang tidak tegas. Dalam kasus menantea masing masing mitra memiliki saham yang sama besar (25%) sehingga tidak ada pemegang saham pengendali, akibatnya keputusan sulit untuk diambil dan berbelit belit. 

Kontrol keuangan dan audit datang terlambat.

Menantea sendiri disebut melakukan audit investigasi dengan kantor akuntan publik setelah masalah membesar. Pada saat yang sama, mereka juga mengakui ada tunggakan supplier, masalah pajak, dan indikasi fraud. Dalam jaringan multi-outlet, audit itu seharusnya bukan tindakan penyelamatan terakhir, tetapi kebiasaan rutin. Kalau audit baru kuat setelah krisis, biasanya kerusakan sudah terlanjur melebar. 




Komentar