Metafora Boiling Frog Dalam Bisnis

 Boiling Frog


Metafora  Boiling Frog sudah sangat popular untuk mengambil perumpamaan bahwa kadangkala perubahan yang mematikan itu terjadi secara tidak disadari karena datang secara perlahan tapi pasti. Terbuai dengan kenyamanan dan kejayaan masa lalu seringkali menjadi perangkap yang mematikan.

Dulu sekitar tahun 90-an akhir, dekat tempat tinggal saya ada warung yang sudah jadi langganan belanja keluarga. Sebutlah warung ini dengan warung bang Mesi, warung yang sudah sangat populer bagi warga kampung. Disana ada berbagai kebutuhan harian seperti sabun, odol, air minum kemasan dan semua yang dibutuhkan keluarga.

Warung bang Mesi ini dikelola secara tradisional,  dijaga keluarga. namun banyak barang yang berdebu karena warung berada dipinggir jalan dan  terbuka, tidak pakai sekat kaca apalagi AC. 

Kadang kasirnya pun melayani sambil makan, tapi waktu itu saya menerima dan menganggap hal ini normal normal saja.  Warung ini tetap populer sampai suatu kejadian merubah semuanya.  

Tidak jauh dari warung ini muncul warung baru, namanya Indomaret. Toko ini hanya berjarak sekitar 100 meter di kiri toko Mesi. Tempatnya bersih, dingin, barang dagangannya baru semua, apa saja ada. Pegawainya berpakain rapih dan ramah .

Pelanggan setia bang Mesi mulai belanja di toko Indomaret.  mereka berselingkuh  ke toko yang baru buka ini. Seperti menemukan tambatan hati baru dan lebih menjanjikan.

Belum sempat mengatur nafas karena kagetnya, berdiri satu lagi toko yang mirip, namanya Alfamaret. Bang mesi semakin gagap, kenyamanan selama ini lenyap seketika. Setahun kemudian toko ini tinggal kenangan dan berubah menjadi warung bakso. Bang Mesi shifting ke bisnis kuliner, pilihan bagus untuk eksistensial-nya.

Bang Mesi bilang, gak ada kesalahan kami – semuanya berjalan normal seperti sejak belasan tahun yang lalu, waktu warung ini dibuka. Tapi semuanya berubah sejak adanya si Indo sama Alfa.

Bukan bisnisnya yang ditelan zaman, tetapi pelangganya yang pindah. Bukan juga karena market size yang mengecil, tetapi market share yang semakin kecil. 

Bang mesi terjebak dalam apa yang disebut dengan syndrome Boiling Frog.  Kenyamanan yang menyebabkan perusahan sulit ber-transformasi. Kejayaan masa lalu dan kekosongan “pemimpin” yang menggerakan transformasi disaat diperlukan.

Bang Mesi tidak sendirian, CEO Kodak maupun Nokia, juga mengalaminya. Dari Perusahaan terbaik, kemudian hilang ditelan perubahan.   Terlambat berinovasi karena menganggap sudah menjadi yang terbaik dan salah menilai dampak perubahan yang terjadi.




Komentar