Fraud Triangle Dalam Kasus Nadiem

Saya pernah menjadi pengagum mas Nadiem ini, terobosannya dengan gojek merupakan inovasi yang luar biasa, ya hebat dalam gagasan dan eksekusinya, juga luar biasa dampak ekonominya bagi Masyarakat. 

Lulusan Harvard University semakin memperlihatkan betapa cemerlangnya orang ini, hanya segelintir orang di Indonesia yang bisa kuliah disini.  

Kalau sekarang Nadiem Makarim ini menjadi terdakwa kasus korupsi memang mengherankan da membuatt saya kecewa, ini bisa dibilang pelaku yang anomali (jika terbukti). Nadiem ini didakwa merugikan negara mencapai Rp 2,1 triliun dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook sewaktu dia menjadi Menteri Pendidikan.  


Proyek yang dari tuntutan Jaksa menjadi pekerjaan yang tidak berguna dan hanya menghabiskan uang negara, serta dugaan adanya korupsi oleh pembantu dekatnya. Juga diduga mengalir ke Nadiem melalui gojek. Sejuta laptop chrome book ini akhirnya tidak bisa digunakan di daerah 3T.


Hal ini membuat tujuan asesmen nasional berbasis komputer tidak tercapai. Termasuk untuk proses belajar mengajar bagi guru dan murid.


Tapi apakah Chromebook yang “kurang cocok” di wilayah minim internet bisa juga dibaca sebagai misjudgment kebijakan/implementasi, bukan otomatis korupsi. Karena itu, pembeda kuncinya adalah bukti niat atau mens rea & penyalahgunaan wewenang dalam kasus ini : misalnya terjadi pengondisian tender, konflik kepentingan, aliran manfaat, manipulasi kajian teknis sehingga proyek terkesan feasible, dsb. Tapi dari berbagai sumber sampai saat ini tidak bukti ada aliran dana ke Nadiem secara langsung.

Jika kasus ini dibahas melalui pendekatan teori Fraud Triangle (Pressure–Opportunity–Rationalization), bisa dijelaskan sbb.:

1) Opportunity (kesempatan) 

Menurut tuntutan dari Kejaksaan, disebutkan adanya dugaan permainan dalam penetapan spesifikasi yang mengunci ChromeOS, termasuk melalui penyusunan juknis/juklak dan lampiran regulasi yang mengarah pada ChromeOS. Kalau ini terbukti, artinya memang fraud ini sudah dirancang sejak awal proyek ini diadakan. Karena menutup peluangg terjadinya persaingan harga, bisa diduga ada niat (mens rea) yang menguntungkan sebagian orang. 

2) Pressure 

Kalau konteks-nya pressure adalah tekanan bagi Nadiem secara ekonomi, rasanya tidak masuk akal karena Nadiem sudah kaya dan sukses sebelum jadi menteri. Kecuali sifat greedy yang mendorong-nya ini atau dorongan orang di-sekelilingnya yang punya kepentingan bisnis. 

Dugaan kepentingan orang dekat ini diperkuat dengan bukti bahwa staff ahlinya adalah orang dekat Google. Melalui jalur investasi  Google di Gojek inilah uang masuk ke Nadiem, kalau terbukti ini Namanya suap dengan jalan menikung.  Tapi gagal di tikungan terakhir

3) Rationalization (rasionalisasi) — 

Narasi yang sering disampaikan oleh Nadiem dan teamnya bahwa pengadaan ini untuk mempercepat pendidikan berbasiskan computer sebagai salah satu tujuan pemerintahan masa itu.

Nama Nadiem sebagai contoh orang sukses karena digitalisasi bisa dijual untuk membenarkan pembelian yang diarahkan pada satu brand Chrome, meskipun banyak pendapat lain yang menyebutkan Chrome ini tidak cocok. Karena daerah 3T masih sangat terbatas akses internet-nya.





Komentar