Suatu hari, seorang kakek dan cucunya berjalan menyusuri desa menuju kota. Bersama mereka ada seekor keledai yang setia.
Karena perjalanan cukup jauh, si kakek naik ke punggung keledai, sementara sang anak berjalan di sampingnya.
Belum lama mereka berjalan, orang-orang desa mulai berbisik.
“Kasihan sekali anak itu,” kata seseorang.
“Kakeknya tega duduk enak, sementara anak kecil disuruh jalan,” kata yang lain.
Mendengar itu, kakek pun merasa tak enak hati. Ia turun, lalu menyuruh cucunya naik ke keledai.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian, mereka bertemu rombongan lain.
“Aneh benar,” kata orang-orang itu.
“Anak kecil duduk santai, kakeknya dibiarkan berjalan.”
Kakek kembali ragu. Akhirnya ia naik bersama cucunya, berdua di atas keledai.
Belum jauh berjalan, suara-suara kembali terdengar.
“Wah, kejam sekali!”
“Keledai sekecil itu ditunggangi dua orang. Bisa-bisa punggungnya patah!”
Merasa bersalah, mereka pun turun. Kali ini, baik kakek maupun cucu berjalan kaki, membiarkan keledai berjalan kosong di depan mereka.
Namun, komentar tak berhenti juga.
“Bodoh sekali,” kata orang-orang.
“Punya keledai tapi malah jalan kaki!”
Akhirnya, si kakek berhenti. Ia menatap cucunya dan berkata pelan,
“Sekarang kamu tahu. Apa pun yang kita lakukan, selalu ada orang yang tidak setuju.”
Mereka pun melanjutkan perjalanan—
bukan lagi untuk menyenangkan orang lain,
melainkan dengan hati yang lebih tenang dan yakin.

Komentar
Posting Komentar