Senin, 23 Februari 2026

Tiffany & Co, perusahaan legendaris dan kontroversinya

Tiffany & Co.: Dari Rumah Perhiasan Legendaris Dunia ke Kontroversi di Indonesia

Apa yang disampaikan oleh Purbaya, Menteri keuangan RI mengenai Perusahaan Bernama  Tiffany & Co yang dituduh melakukan penggelapan pajak, barangkali tidak terlalu menghebohkan Masyarakat di Indonesia. Karena tidak akan banyak warga RI yang pernah masuk ke toko ini, karena menjual produk yang memang sangat jauh dari kemempuan dompet warga negara RI. Tapi disinilah kontroversi atau plot twist berkembang.

Tiffany & Co ini bukanlah Perusahaan ecek ecek, pemiliknya adalah group LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton asal Perancis, owner-nya Bernard Arnault adalah salah seorang terkaya dimuka bumi ini. Arnault mengakuisisi Tiffany dari Perusahaan Charles Lewis Tiffany dan John B. Young rumah perhiasan mewah asal Amerika Serikat yang didirikan pada 1837 di New York. Dari nama pendirinyalah nama Tiffany & Co berasal. 

Produk yang dijual hanya brand dari perhiasan emas dan berlian, jam tangan, tas, parfum dan kacamata premium. Target pasar utamanya tentu konsumen kelas atas yang membeli karena butuh status simbol bukan karena fungsi-nya. Bedalah dengan segmen pengunjung Mall di Jatinegara atau Klender. Tiffany hanya membuka outlet di kawasan elit Jakarta seperti di Plaza Senayan, Plaza Indonesia dan Pacific Place.  Ceruk pasarnya tentu sangat kecil secara kuantitas tetapi sangat berkualitas.   

Outlet mereka yang exclusive ini kemudian berubah heboh dan disinilah plot twist itu berasal. Pada 11 Februari 2026, Perusahaan multinasional yang biasanya menjadi acuan tentang kepatuhan regulasi, sekarang disangkakan melakukan praktik under invoicing (melaporkan nilai barang lebih rendah dari nilai sesungguhnya) yang berpotensi menimbulkan kerugian negara triliunan rupiah. 

Tuduhan praktek curang ini  pasti akan menimbulkan risiko finansial, Tiffany terancam sanksi denda hingga 1.000% dari nilai pajak impor. Bagi customer premium yang sangat menjaga privacy-nya tentu saja akan menghindar bertransaksi dengan Perusahaan yang dalam sengketa hukum ini. Pasti mereka akan sangat menghindar kalau ikut terseret kasus ini, apalagi dipanggil sebagai saksi. Dampak perbuatan mereka ini bisa pada level sustainabilitas Tiffany di Indonesia. Brand mahal yang kontroversial.



Minggu, 08 Februari 2026

Pelajaran dari Kejatuhan Extra Joss saat Diserang Kuku Bima Ener-G

Pelajaran dari Kejatuhan Extra Joss saat Diserang Kuku Bima Ener-G

Kalau bicara DNA, pasti yang kita ingat tentunya unsur kimia yang membentuk sifat manusia dan DNA ini selama kita hidup tidak berubah. Namun istilah ini kemudian dipakai juga untuk menjelaskan sifat suatu produk, misalnya BMW yang memiliki DNA mobil mewah dengan mesin yang andal dan Toyota Avanza sebagai kendaraan keluarga yang dapat  diandalkan serta memiliki harga jual kembali yang bagus.

Begitu juga disaat Bintang Toedjoe melahirkan Extra Joss, produk ini memiliki DNA minuman segar untuk laki laki yang perkasa dan berprestasi.

Produk ini lahir dari jelinya Bintang Toedjoe melihat segmen pasar yang terbuka lebar, pada masa itu semua minuman ber-energy dikemas dalam botol atau kaleng. Sementara banyak konsumen kelas menengah bawah yang tidak mampu membelinya karena mahal.

Lahirlah minuman ber-energy dalam bentuk serbuk bernama Extra Joss dan produk ini laris manis. Pembelinya terutama para pekerja kelas menengah bawah yang butuh penambah tenaga, sementara membeli minuman dalam kemasan botol dirasa membuat dompet menjadi lemas.

Extra Joss sangat perkasa, menguasai pasar dan menjadi “ritual tenaga” bagi segmen pekerja lapangan, sopir, dan konsumen menengah-bawah. Figur yang sangat berhasil membesarkan merek ini bernama Simon Jonatan, Ia seperti Ferguson bagi MU. Manajer yang memberi DNA bagi Manchester United. 

Simon menjiwai Extra Joss dengan iklan yang dibintangi oleh Ahmad Dhani, Chris Jhon, Taufik Hidayat dan Sujiwo tejo, nama yang dikenal pekerja keras dan berprestasi.  Pada saat momen piala dunia Extra Joss juga memakai Alesandro del piero sebagai bintang iklannya, sekaligus membawa Extra Joss go international.

Untuk merebut pasar, Extra Joss mengeluarkan promo “buat apa beli botolnya, ini biangnya”.  tagline keren ini memawa Extra Joss benar benar Joss. Tapi dimasa jayanya Simon Jonatan pergi meninggalkan Bintang Toedjoe yang dibesarkannya. Pada saat pergi, Extra Joss menguasai hampir 70% market share minuman energy serbuk.

Kejatuhan Extra Joss

Ibarat pepatah, dimana ada gula disitu akan muncul semut, melihat besarnya pasar minuman energy dalam bentuk kemasan- hadirlah pesaing memperebutkan konsumen yang dibentuk oleh Extra Joss.  

Dimulai dengan hadirnya Hemaviton Jreng, yang mengusung nama besar Brand Hemaviton, meskipun mengganggu tetapi masih bisa diatasi. Tetapi kemudian hadir pesaing yang lebih agresif yaitu  Kuku Bima Ener-G. Pesaing dari Sido Muncul yang lincah, Brand yang kuat, jaringan distribusi sangat luas, dan pintar membuat diferensiasi produk—misalnya menambahkan berbagai rasa, ada rasa jeruk, ada rasa anggur dan pakai ekstrak ginseng-nya.

Kuku Bima merebut bintang iklan Extra Joss seperti Chris Jhon dan Doni Kesuma menjadi endorser Kuku Bima, merekrut mbah Maridjan dengan slogan roso roso yang viral. Sebaliknya extra joss beralih menggunakan pelawak Gogon sebagai endorser-nya. Personalitas yang jauh berbeda dengan DNA Extra Joss sebagai minuman untuk laki laki yang berprestasi. 

Bersikap reaktif terhadap pesaing, namun berakiba hilangnya konsistensi menjaga DNA produk. Tidak seperti Toyota yang mengeluarkan Lexus sebagai Fighting Brand bagi segmen mobil mewah, Extra Joss tetap menggunakan brand yang sama menghadapi berbagai pesaing, amun kehilangan identitas brand-nya.

Mirip Manchester United setelah ditinggal Ferguson, Extra Joss pun setelah ditinggal oleh Simon Jonatan juga kehilangann “jiwanya”, penjualan Extra Joss merosot sampai hampir 60%-nya dan Kuku Bima menikung Extra Joss.

Pada bulan Maret 2009, menurut data dari AC Nielsen posisi pimpinan klasemen direbut oleh Kuku Bima dari Extra Joss. Kuku Bima menguasai 32,4% market share dan Extra Joss hanya 30,2%. Sama dengan MU setelah era Ferguson, mereka terus kalah. Pada  akhir tahun 2013, market share Kuku Bima naik menjadi 42 %, sementara Extra Joss turun menjadi 23%. Kekeliruan yang mahal bagi Extra Joss.

Meskipun sekarang (2025) Extra Joss dapat kembali rebound dengan menguasai sekittar 52% market share tetapi selama bertahun tahun mereka terpuruk dan mahal ongkosnya untuk kembali jadi pemimpin pasar.  Dari sini kita belajar kalau persaingan ini tidak hanya mengenai saluran distribusi atau rajin beriklan. Tetapi menjaga DNA produk tetap konsisten juga sangat penting.





Kamis, 05 Februari 2026

Dampak Kasus JWR (Cina) dan Relevansinya untuk Tabungan Emas Pegadaian


Kisah runtuhnya platform  emas digital JWR Group di Shenzhen memberi gambaran jelas bahwa “emas digital” tidak selalu identik dengan “aman”. Dalam kasus itu, puluhan ribu investor retail dilaporkan mengalami kerugian gabungan lebih dari 10 miliar yuan atau sekitar 23 triliun rupiah karena tidak dapat menarik dana ketika gelombang pencairan.

Disaat  harga emas melonjak, investor dan investor secara bersamaan menjual emasnya; perusahaan mengalami kesulitan likuiditas dan gagal memenuhi permintaan penarikan. 

Pertanyaannya: seberapa mungkin skenario semacam ini terjadi pada platform Tabungan Emas Pegadaian? Jawabannya bukan sekadar “mungkin/tidak mungkin”, melainkan soal seberapa kecil probabilitasnya dan di titik mana risikonya masih ada.

1) Sumber masalah di JWR: “rush” + mismatch likuiditas + celah regulasi

Kasus JWR pada intinya mirip “bank rush” versi platform emas: ketika banyak orang serentak ingin mencairkan, platform harus menyediakan likuiditas tunai dengan cepat. Jika dana nasabah tidak benar-benar ditopang cadangan yang memadai, atau asetnya tidak cukup likuid/tersebar dengan tata kelola yang kuat, maka platform bisa macet dan gagal bayar.  

2) Pembeda utama Pegadaian: status kelembagaan, pengawasan, dan klaim backing fisik

Berbeda dari platform “abu-abu”, Pegadaian secara terbuka menyatakan terdaftar dan diawasi OJK pada laman produknya. Selain itu, materi edukasi Pegadaian menyebut Tabungan Emas diawasi OJK dan menjelaskan mekanisme saldo emas yang mengikuti perubahan harga harian. Beberapa publikasi juga menyatakan saldo Tabungan Emas dijamin 1:1 dengan emas fisik dan disimpan di vault yang diresmikan oleh presiden RI (Prabowo).

Dari sisi fitur, Pegadaian menyediakan jalur pencairan melalui penjualan saldo emas (buyback) ke rekening bank. Pegadaian juga menyediakan opsi ambil fisik/cetak emas dari saldo Tabungan Emas (dengan ketentuan tertentu), yang secara konsep mengurangi kekhawatiran “emasnya hanya angka di layar”. 

Penulis pada saat terjadinya  kenaikan harga emas, juga sempat memastikan dengan cetak emas di aplikasi tring Pegadaian, dan tidak ada kendala. Hanya tidak tersedia cetak emas Antam, tetapi dapatnya emas UBS.

jika memang pengelolaan dilakukan sesuai klaim 1:1 fisik, maka risiko model JWR (menerima dana tanpa cadangan memadai) semestinya jauh lebih kecil pada Tabungan Emas Pegadaian. Besar kemungkinan model bisnis JWR ini shadow bank. Pembelian emas dari nasabah tidak 100% dibelikan emas, tetapi mungkin hanya 20% dibellikan emas dan 80% dipakai untuk investasi lain (misal property, saham atau investasi lainnya).

3) Namun, “lebih kecil” bukan “nol”: titik risiko yang tetap perlu diwaspadai

Walau fondasinya berbeda, ada beberapa risiko yang secara teori tetap bisa muncul pada platform mana pun:

• Risiko likuiditas operasional saat rush ekstrem: jika terjadi lonjakan jual/buyback besar-besaran dalam waktu sangat singkat, tantangannya adalah kecepatan eksekusi, ketersediaan likuiditas.  Misalnya pada saat emas mencapai harga Rp. 4 juta/gram, potensi penabung emas akan serentak menjual emas-nya sangat besar. Pegadaian tentu harus segera menyediakan likuiditas yang besar atau menjual emas persediaannya. Bisa jadi tidak tersedia pembeli emas dalam jumlah besar disaat bersamaan dengan “rush”.

• Risiko operasional & teknologi: gangguan sistem, antrean transaksi, downtime aplikasi, atau kendala integrasi pembayaran dapat membuat pengguna “merasa” seperti tidak bisa menarik, walau masalahnya sementara. pada era semua hal bisa menjadi viral, kejadian ini akan berdampak pada potensi terjadinya " gold rush"

• Risiko tata kelola & transparansi: klaim “1:1 fisik” dan didukung oleh kontrol internal,  audit, dan pengawasan terbuka oleh OJK— mewakili kepentingan nasabah yang sepenuhnya menaruh kepercayaan  pada governance Pegadaian. 

• Risiko perilaku investor: euforia harga emas yang melambung tinggi dapat mendorong perilaku ikut-ikutan dan transaksi berlebihan untuk ambil untung; bisa juga memicu rush. 

Kasus JWR mengajarkan bahwa keruntuhan platform emas digital dapat dipicu kombinasi rush likuiditas dan struktur bisnis yang tidak memenuhi standar pengawasan/permodalan.

hal yang membedakan platform JWR Cina dengan Tabungan Emas Pegadaian adalah pada cadangan yang 100% (1:1),  pengawasan dari OJK, opsi jaminan buyback atau opsi ambil fisik. selama hal ini terjamin dan dipercaya masyarakat maka Tabungan Emas dapat dipastikan aman.