Kamis, 20 Agustus 2020

steve jobs leadership series

 

Investasi Emas



Pada bulan september 2011 harga emas pernah juga mencapai sekitar US$ 1900 / Tr ounce, dan dalam 6 bulan setelah itu turun sampai nyaris ke angka US$ 1.100..
Faktor penggeraknya sepertinya dulu juga mirip, karena uang investor besar mencari tempat aman untuk parkir sementara karena turunnya nilai surat berharga di AS, turunnya nilai mata uang US dan uncertainty.
Begitu kebijakan quantitave easing dikeluarkan maka arus balik terjadi, dengan cepat harga emas turun sampai sekitar 30%.
Konon katanya Trump akan membebaskan berbagai pajak untuk stimulan ekonomi AS yang resesi, pasti akan mendorong daya belanja warganya dan menguatkan ekonomi AS. Pastinya akan memperkuat kembali surat berharga korporasi AS dan mata uang US$.
Kenaikan emas bisa karena faktor supply and demand, misalnya karena musim festival keagamaan depvali di India, menjelang lebaran di Indonesia. Bisa karena melemahnya mata uang rupiah terhadap US$. Bisa juga spekulasi.
Barangkali juga kenaikan harga emas dunia yang sangat cepat itu bukan pembelian secara fisik, bisa jadi hanya elektronik, Paper gold.
Sepertinya juga tidak ada perusahaan tambang yang melonjak produksinya atau juga tidak ada bank sentral yang melepas cadangan emasnya besar besaran (?).
Sehingga dijualnya pun secara paper tanpa ada fisik emasnya. Ini bisa jadi bisnis gaya george soros yang membuat indonesia nyaris bangkrut di krismon 1998.
Kalau mau invest emas sebaiknya jangan ikut ikutan dan berniat cari untung jangka pendek. Jadilah investor yang punya rencana jangka panjang, bisa diniatkan menabung emas dulu untuk kelak beli rumah, untuk biaya anak kuliah atau bagi umat muslim modal naik haji ONH Plus.
Beli terus emas secara rutin tanpa tendensius, kalau katanya harga akan terus naik baru beli, naik sedikit langsung jual. Kita bukan keluarga Rockefeller yahudi yang bisa mengatur ekonomi dunia.
Emas itu secara jangka menengah dan panjang, dilihat dari historical data akan melindungi aset kita dari penurunan nilai atau menjamin daya beli kita akan tetap kuat...




Kamis, 13 Agustus 2020

lelang online

Lelang Online
Hari ini kembali ke balai lelang JBA, menjual mobil rental yang sudah jatuh tempo. Beberapa bulan lalu sebelum mengenal PSBB saya juga kesini untuk survei dan menjalin kerjasama.
Situasinya sungguh berbeda, ruang lelang yang sebelumnya ramai, hiruk pikuk dan terang sekarang sepi dan gelap.
Balai lelang ini dan seperti balai lelang lainnya benar benar mengalami masa sulit disaat awal PSBB, Maret sd Mei nyaris tidak ada lelang. Bisnis drop karena tidak bisa dijalankannya lelang.
Namun sejak Juni secara perlahan kembali pulih, lelang mulai berjalan. Namun sekarang lebih banyak lelang online. Secara cepat ekosistem menyesuaikan new normal dan beradaptasi.
Meskipun sebelum era PSBB sudah ada lelang online namun pembeli tetap lebih suka hadir langsung offline. Ternyata covid yang mendorong orang berubah, mau belajar dan beradaptasi menggunakan aplikasi digital.
Sepertinya meskipun besok vaksin sudah ditemukan, orang akan tetap lebih suka lelang online. Covid sudah merubah kebiasaan lama.

Sabtu, 08 Agustus 2020

Bisnis "Built to adapt"

The river on river Chocoluteca 

 

Barangkali Sebagian besar orang di Indonesia belum pernah mendengar nama sungai Choluteca, ini nama sungai yang berada di Honduras, negeri yang nun jauh  di Amerika Tengah. Negeri dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat, sering dilanda badai dan angin topan.

 

Untuk menghadapi kondisi alam yang tidak bersahabat ini maka pemerintah Honduras membangun jembatan yang kuat menghadapi cuaca ekstrim tersebut menyeberangi sungai Choluteca. Dibayarlah kontraktor dari Jepang untuk membangun jembatan ini di tahun 1996, dan dua tahun kemudian jembatan selesai dibangun.

 

Segera saja jembatan ini menghidupkan denyut ekonomi daerah sekeliling chocoluteca dan menjadi jembatan kebanggaan bagi masyarakat Honduras.

 

Sampai kemudian pada bulan Oktober di tahun 1998, terjadilah badai yang luar biasa besarnya menerjang daerah chocoluteca. Apa yang terjadi ? seluruh Kawasan disekitar Chocoluteca habis diterjang badai, banjir menerjang dan menelan apa saja di kawasan itu.

 

Setelah badai dan banjir berlalu jembatan chocoluteca masih berdiri kokoh, terbukti kontraktor Jepang tadi sudah membangun jembatan yang sanggup menghadapi cuaca ekstrim.

 

Namun daerah sekeliling jembatan sudah berubah, banjir sudah menghancurkan infrastruktur di sekitar jembatan. Jalan jalan sudah hilang ditelan banjir dan sungai kemudian membentuk aliran baru disisi jembatan.

 

Jadilah kemudian jembatan cocho menjadi jembatan “for nobody” dan “nowhere”, jembatan yang tidak bisa dipergunakan oleh siapapun dan terletak di lokasi yang antah barantah.

 

Apa hikmahnya dari ini semua ? ibaratnya jembatan choco tadi adalah perusahaan, karier atau bisnis kita, bersiaplah menghadapi perubahan yang terjadi di sekeliling kita. Bahwa karier kita juga tergantung dengan lingkungan, perusahaan juga memiliki ekosistem yang mempengaruhinya, tidak ada yang berdiri sendiri.

 

Metafora jembatan choco tadi menjelaskan kalaupun kita orang hebat sekalipun, kita hanya akan berfungsi dengan baik kalau disupport oleh orang disekeliling. Tantangan yang dihadapi adalah seringkali kita berfokus pada usaha “best solution” terhadap masalahnya, tanpa menyadari bahwa seringkali masalahnya yang berubah.

 

Jembatan Choco menjadi metafora yang relevan pada masa kini, bahwa kita tidak perlu berusaha “built to last” namun for nobody tetapi yang terpenting bisa “built to adapt”. Menjadi bagian yang bermanfaat dan saling mendukung bagi kerier dan perusahaan.

 

 

Sumber : The bridge on River Chocoluteca, prakas iyer.

Jumat, 07 Agustus 2020

Boiling Frog

Kisah Warung Meneer

Dulu waktu saya tinggal di medan sekitar tahun 2009 ada warung tempat langganan saya dan keluarga belanja, mulai dari beli beras, Indomie, coca cola dan juga tempat mengajak anak anak beli ice cream, permen dan roti kesukaannya. Warung ini dekat rumah dan kami kenal baik dengan pemilik dan penjaga warung itu.

Warung kampung ini khas, akrab dan ramah, tapi sedikit kotor, barangnya juga kurang bersih karena berdebu,mungkin sebagian rotinya sudah kadaluarsa, lampunya sedikit redup dan penjaganya yang merangkap jadi kasir masih menghitung menggunakan kalkulator.

Tapi pada masanya inilah warung terbesar dan terlengkap di dekat perumahan, jadi menjadi pilihan utama. Warung warung kecil yang mencoba bersaing dengan warung meneer ini belum mampu menyaingi warung pak meneer ini, hanya menjadi pelengkap saja.

Seiring berjalannya waktu, dekat perumahan kami mulai berdiri Indomaret. Jarak antara warung dengan Indomaret hanya sekitar 200 meter dan warung meneer tetap beroperasi seperti biasa. kasirnya tetap pakai kalkulator dan ruangan tetap panas dan berdebu karena lokasinya pas dipinggir jalan yang ramai.
Tapi tidak sampai satu tahun sejak berdirinya indomaret, barang jualan di warung meneer terlihat semakin sedikit. Meja kasir yang dulu cukup ramai, bayarpun ngantri, sambil sedikit berkeringat karena warungnya gak pakai AC, Sekarang sepi tidak ada antrian lagi.

Dulu kasirnya ada 2 orang, satu menghitung harga yang harus dibayar pelanggan pakai kalkulator dan satunya memasukkan barang yang dibeli ke kantong asoy, Sekarang karena sepi tinggal kasirnya saja.

Pada akhir kisah ini, warung meneer pun akhirnya tutup. kemungkinan semua pelanggannya berpindah ke Indomaret. Semuanya lebih suka belanja di Indomaret, barang dagangan nya baru, lebih bervariasi. Karyawannya berpakaian rapih dengan tokonya yang jauh lebih bersih dan sejuk karena pakai AC. Indomaret menawarkan layanan sebagaimana yang diharapkan oleh konsumen.

Pak Meneer tidak menyadari bahwa lingkungan sudah berubah. Ibarat tamsil boiling frog, kodok dalam panci yang ditaruh diatas kompor. Perubahan suhu air dalam panci pasti datang dengan perlahan, jika pak Meneer tidak cepat menyadari perubahan lingkungannya dan masih berfikir seperti masa jayanya, maka sampai pada waktunya dimana perubahan sudah berlangsung dramatis dan mematikan bisnis yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan.

Bisnis harus selalu melakukan inovasi untuk tetap survive...

Balai lelang

Build to adapt

Covid merubah semuanya, dulu sebelum merebaknya covid yang namanya balai lelang adalah pusat kerumunan manusia. Banyak sekali peserta lelang yang datang untuk membeli mobil, penawaran silih berganti sampai ditemukan harga tertinggi. Pasar second mobil juga tumbuh dengan pesat.
pada masa covid ini balai lelang tetap berjalan, namun dengan suasana yang jauh berbeda. Lelang di Caready yang merupakan perusahaan dari Blue Bird group yang biasanya dilaksanakan di dua line, sekarang hanya satu line.

Karena sepinya peserta lelang dan memenuhi protokol Covid 19, mobil yang akan dilelangkan tidak bergerak ke panggung. Calon pembeli lelang juga hanya hadir sebentar melihat kondisi mobil dan kemudian lebih suka mengikuti lelang melalui aplikasi online. karena sepinya maka disaat pelaksanaan lelang pengunjung kita bisa berdiri jalur jalannya mobil menuju panggung.

Tapi disisi lain jumlah barang yang akan dilelang semakin meningkat karena terjadi peningkatan mobil dan sepeda motor yang ditarik oleh leasing . Seperti biasanya penyebab penarikan mobil atau sepeda motor ini disebabkan kegagalan nasabah untuk melanjutkan pembayaran angsuran. Alasan utama gagal bayar ini karena semakin banyaknya karyawan yang terkena pemotongan penghasilan sampai dengan terkena PHK.

Salah satu perusahaan yang tetap exist di bisnis ini adalah Caready , karena jauh sebelum wabah Covid sudah membangun aplikasi lelang online-nya. Pada saat merebaknya Covid juga terjadi pergeseran perilaku pembeli lelang, dari sebelumnya diramaikan oleh peserta lelang yang hadir secara fisik sekarang peserta lelang online yang hadir semakin meningkat.
Namun penjualan dalam setiap event lelang tentu tidak akan bisa setinggi dibandingkan masa sebelum covid, namun bagi banyak perusahaan meskipun tidak bisa menjual sebesar jumlah sebelum terjadinya covid namun yang paling penting bisnis tetap bisa survive
Covid semakin mempercepat proses digitalisasi disemua aspek bisnis. perusahaan harus bisa menyesuaikan pola operasional dan teknologinya untuk bisa beradaptasi dengan perubahan "built to adapt" merupakan jalan yang harus dipilih.
Dalam ekosistem bisnis yang membentuk supply chain yang saling terkait , keseluruhan supply chain harus benar benar dalam kondisi baik. Jika salah satu mata rantai putus maka rusak juga keseluruhan ekosistem. bagi balai lelang maka mulai dari supply mobil dan akan dijual di lelang, perusahaan pembiayaan, showroom mobil second dan tentu juga daya beli konsumen di pasar second akan menjadi mata rantai yang saling terkait dan mendukung.

Perusahaan yang kokoh "built to last" sekalipun jika berhadapan dengan kondisi dimana ekosistem yang runtuh atau tidak lagi menjadi bagian supply chain yang support juga akan sulit bertahan.



Minggu, 02 Agustus 2020

Do People Buy It?

When a Brand Stands up for Racial Justice, Do People Buy It?
by Geeta Menon and Tina Kiesler
July 31, 2020
 

Recent protests demanding social justice and the affirmation of the Black Lives Matter (BLM) movement have provoked a flurry of activity among corporations as they drop brands that have racist connotations, reposition other brands with ambiguous to outright offensive racial implications, explicitly state their solidarity with the movement, and donate money to racial justice causes.

But do consumers perceive these actions as authentic — especially when many of these companies are not Black owned and/or have a lackluster history of Black corporate leadership? And will these strategies result in long-term brand loyalty?

What is brand authenticity?
The literature defines brand authenticity as the extent to which consumers perceive a brand to be faithful to itself (continuity), faithful to its customers’ expectations for the brand to deliver on its promises (credibility), motivated by caring and responsibility towards the community (integrity), and reflecting values that consumers consider important (symbolism).

Continuity and credibility are focused solely on the company and its customers, so these actions can be said to have a corporate orientation. Integrity and symbolism, on the other hand, are more focused on social issues outside the immediate scope of the company, and so these actions can be said to have a societal orientation.

While both orientations are important and valid ways of expressing a brand’s authenticity, actions with a societal orientation are likely to be perceived as more authentic when it comes to social issues such as racial justice.

In addition to orientation, brands can also choose to participate in these actions more actively or more passively. Specifically, they can choose to play a supportive non-racist role as an ally, indicating support for change with limited action, or they can choose to be an activist proactively involved in anti-racist actions and campaigns.

As marketing professors who have studied consumer relationships with brands, we present a framework to help companies understand how authentic their brand actions will appear to consumers. By examining the intersection of orientation (corporate or societal) and type of participation (ally or activist) as presented in the table below, several brand actions of varied levels of authenticity emerge.

Corporation-Oriented Actions:
Atone: To make amends for past wrongdoings. These are corporation-oriented actions that companies take as allies. Essentially the bare minimum, these actions show that the corporation is at least aware of the need to act given past brand decisions that fly in the face of social justice. For example, if a company has products with negative racial connotations, such as Quaker Oats’ brand Aunt Jemima, it can choose to discontinue the brand. However, atoning for past sins with a mere withdrawal or a repackaging of a product, while important, is both fairly passive and self-focused, and as such, consumers likely to view these actions as low in authenticity.

Allure: To proactively attract consumers. These are actions that are still corporation-oriented, but are more proactive than mere atonements: A corporation can be an activist and support a cause in a way that’s also directly in their self-interest. For example, Aerosoles announced it would support racial justice and combat discrimination by donating 10% of sales proceeds to the NAACP. This is a proactive approach to supporting an important social issue, but it is still self-serving, since it will also bring in more revenue as consumers seek to support the cause through their purchases. As such, consumers are likely to view these sorts of actions as low-medium in authenticity. (Note that this is different from another popular strategy in which brands donate 100% of their profits or a fixed dollar amount. In these cases, corporations do not benefit as directly from increased sales, so we would rate this strategy medium-high in perceived authenticity.)

Societally-Oriented Actions:
Acknowledge: To recognize a broad social issue. These actions are relatively passive, but they acknowledge social issues in a wider context than limited, corporation-oriented actions. As allies, corporations take societally-oriented actions in support of racial justice that might not lead them to profit directly, but are also unlikely to have a negative impact on the business. Netflix’s curation of BLM content, for example, is an action that supports a social mission and aligns with their business model, but is unlikely to drive significant new revenue. As such, consumers are likely to view the authenticity of this brand action as medium-high.

Advocate: To actively support a cause or policy. To quote Ibram Kendi, author of How To Be An Antiracist, “To be anti-racist is a radical choice in the face of history, requiring a radical reorientation of our consciousness.” To advocate for important social issues in a manner that will feel truly authentic to consumers, corporations must take an active, societally-oriented approach — one that may have even a potentially harmful impact on business goals. Nike is a great example of a company that took a stand without obvious self-interest: When Colin Kaepernick was abandoned by the NFL after kneeling during the national anthem, Nike made the risky decision to use him as the face of their Just Do It campaign. Despite widespread backlash, the company did end up seeing a surge in sales. Because of the corporate risk and the implications for broad racial justice, this campaign exemplifies a high-authenticity action.


Perceived Authenticity: Medium-high Perceived Authenticity: High
Source: Geeta Menon and Tina Kiesler
Today’s consumers are vocal about social issues, and they are quick to take disingenuous corporations to task. A majority of Americans of all generations — 60% of the U.S. population — say that how a brand responds to racial justice protests will influence whether they buy or boycott the brand in the future. Additionally, 60% say brands should take steps to address the root causes of racial inequity and 57% say brands must educate the public.

And Millennial and Gen Z consumers have expectations of brand authenticity that far exceed those of generations before them. These adult consumers are the most racially and ethnically diverse in American history, and they want corporations to stand for something beyond traditional consumer benefits and product quality.  A June 2020 survey found that 69% of Millennial and Gen Z consumers think brands should be actively involved in the BLM movement. To connect with these younger consumers, brands need to take a stand against racial injustice in a way that is authentic to the corporation as well as their customers.

Armed with this framework for brand actions outlined in this article, corporations can strategically assess the level of authenticity of different actions, enabling them both to better understand the impact of past actions and to better gauge how future planned actions are likely to be perceived. For brands that want to build a reputation as role models with a significant societal impact, the way forward is clear: The most authentic brand actions are ones that proactively advocate societally-oriented, anti-racist actions. These are actions that come with some risk, but they are also most likely to be rewarded with real consumer loyalty.