Sabtu, 03 Januari 2026

Koin Penyok

Suatu hari, seorang pria tua berjalan sendirian di jalan yang sepi.

Langkahnya pelan, wajahnya biasa saja—seperti hari-hari sebelumnya.

Di tengah jalan, matanya menangkap sesuatu di antara debu dan kerikil.

Sebuah koin penyok .

Bukan emas.

Bukan perak.

Hanya koin tua yang tampak tak berarti.

Ia memungutnya, menimbang sebentar di telapak tangan, lalu menyimpannya.

Di kota, ia singgah di sebuah toko barang antik. Tanpa ia duga, pemilik toko memperhatikan koin itu lebih lama dari yang semestinya.

“Koin ini menarik,” katanya.

“Aku mau menukarnya dengan sebuah arloji.”

Arloji itu bagus. Terawat. Beratnya meyakinkan.

Pria tua itu setuju.

Ia melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, seseorang melihat arloji di tangannya. Mata orang itu berbinar.

“Aku mau membelinya,” katanya, sambil menyebut harga yang besar.

Pria tua itu menerima uang tersebut. Jumlahnya cukup untuk membuat banyak orang tersenyum sepanjang jalan pulang.

Namun jalan pulang jarang lurus.

Di sebuah tikungan sunyi, beberapa orang menghadangnya.

Tak ada perlawanan.

Tak ada pilihan.

Uang itu berpindah tangan.

Mereka pergi, meninggalkannya berdiri sendiri—tanpa arloji, tanpa uang.

Beberapa saat kemudian, seorang anak muda yang menyaksikan kejadian itu mendekat dengan wajah prihatin.

“Pak,” katanya pelan,

“apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Pria tua itu menatap jalan di depannya, lalu menjawab tenang:

“Hanya sebuah koin penyok .”

------------------------

Pelajaran yang Bisa Diambil
Kehilangan sering terasa besar karena kita menghitungnya dari puncak,
bukan dari titik awal.
Pria tua itu tidak menyangkal apa yang terjadi.
Ia hanya memilih titik rujukan yang berbeda.
Ia tidak berkata, “Aku kehilangan uang banyak.”
Ia tidak berkata, “Aku hampir kaya.”
Ia hanya kembali ke awal cerita—saat segalanya bermula dari sebuah koin penyok.
Kadang yang membuat kita menderita bukan peristiwa itu sendiri,
melainkan cerita yang kita bangun tentang apa yang “seharusnya” menjadi milik kita.
Jika cerita itu dilepas,
kehilangan pun mengecil dengan sendirinya.



Sumber : Earlando Forum




Jumat, 02 Januari 2026

Insentif Mobil Listrik Dicabut Pemerintah

momobil.id – Lanskap otomotif Indonesia bersiap menghadapi pergeseran besar per 1 Januari 2026. Berakhirnya masa berlaku insentif impor kendaraan listrik (EV) pada penghujung 2025 menjadi titik balik bagi para manufaktur global untuk membuktikan komitmen industrialisasi mereka di tanah air. 

Kebijakan ini tidak hanya menuntut lokalisasi produksi, tetapi juga diprediksi akan mengubah peta persaingan antara mobil listrik murah dan segmen Low Cost Green Car (LCGC).

Dari Impor Menuju Manufaktur Lokal

Pemerintah menetapkan batasan tegas bagi merek-merek yang sebelumnya menikmati relaksasi pajak impor, seperti BYD, VinFast, Geely, hingga GWM. Mulai tahun 2026, perusahaan-perusahaan tersebut wajib menjalankan skema produksi berimbang dengan rasio 1:1. 

Artinya, jumlah unit yang diproduksi di pabrik dalam negeri harus setara dengan volume unit yang telah mereka impor ke pasar Indonesia selama masa insentif.

Kewajiban ini dibarengi dengan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang progresif:

– Fase 2022–2026: Standar minimal TKDN wajib mencapai 40% melalui perakitan Completely Knocked Down (CKD).

– Fase 2027: Target meningkat ke angka 60% dengan transisi metode ke Incompletely Knocked Down (IKD).

– Target Jangka Panjang: Pencapaian nilai lokal sebesar 80% akan didorong melalui skema manufaktur komponen secara parsial (part-by-part).

Langkah ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat rantai pasok komponen inti kendaraan listrik di kawasan regional.


Efek Domino pada Harga Mobil Listrik di Indonesia

Selama periode 2023 hingga 2025, adopsi kendaraan listrik di Indonesia melaju pesat dengan populasi mencapai 207.000 unit pada akhir 2024 tumbuh sebesar 78 persen dalam setahun. 

Namun, lonjakan ini sangat bergantung pada intervensi fiskal berupa pembebasan bea masuk dan PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah).

Ketika subsidi impor CBU (Completely Built Up) dicabut, harga unit listrik yang belum mencapai standar TKDN 40 persen dipastikan akan melonjak tajam. Hal ini menciptakan celah ekonomi baru:

1. Melebarnya Selisih Harga: EV kelas pemula di rentang Rp200 juta hingga Rp400 juta yang sebelumnya bersaing ketat dengan LCGC akan mengalami koreksi harga ke atas.

2. Sensitivitas Cicilan: Konsumen menengah-bawah sangat memperhatikan besaran angsuran bulanan. Kenaikan harga unit akibat pajak penuh akan membuat skema kredit EV menjadi kurang kompetitif dibandingkan mobil konvensional.


Peluang Meningkatkan Permintaan Mobil LCGC

Segmen LCGC, yang dihuni oleh model-model seperti Toyota Agya, Daihatsu Sigra, dan Honda Brio Satya, berpotensi mengalami kebangkitan struktural pada 2026. 

Jika sebelumnya banyak pembeli mobil pertama beralih ke EV karena harga yang kompetitif berkat subsidi, kini daya tarik ekonomis LCGC kembali menguat.

Mobil bermesin pembakaran internal (ICE) yang saat ini menguasai sekitar 82,2 persen pangsa pasar (data per Juli 2025) tetap memiliki keunggulan pada infrastruktur pengisian bahan bakar yang merata serta biaya perawatan yang lebih terprediksi bagi masyarakat di luar kota besar. 

Bagi mereka yang memiliki anggaran terbatas di angka Rp200 juta hingga Rp300 jutaan, LCGC kembali menjadi pilihan yang paling masuk akal secara finansial.

Fase Penetrasi Pasar Otomotif

Tahun 2026 akan menjadi periode pendewasaan bagi pasar otomotif. Pertumbuhan kendaraan listrik tidak lagi didorong oleh “euforia insentif”, melainkan oleh kematangan ekosistem. 

Merek yang berhasil mengamankan TKDN 40 persen akan tetap menikmati PPN rendah sebesar 1 persen, menjadikan mereka pemimpin pasar di era baru ini. 

Sementara bagi merek yang gagal melakukan lokalisasi, mereka harus bersiap menghadapi penurunan minat beli karena harga yang tidak lagi terjangkau oleh pasar entry-level.

Jika Anda berencana membeli mobil listrik dari merek yang belum memiliki pabrik di Indonesia, harga di tahun 2026 kemungkinan besar akan lebih mahal dibanding tahun 2025. 

Sebaliknya, mobil listrik yang sudah dirakit lokal dengan TKDN tinggi akan tetap stabil dan menjadi pemimpin pasar, bersaing ketat kembali dengan mobil LCGC.



sumber : Momobil.id

Koin Penyok

Suatu hari, seorang pria tua berjalan sendirian di jalan yang sepi. Langkahnya pelan, wajahnya biasa saja—seperti hari-hari sebelumnya. Di t...