Sabtu, 13 Februari 2021

Koin Emas Sebagai Mata Uang

King Croesus

Dari sungai Pactolus tempat raja midas mencuci tangannya ini kemudian bangsa Lydia pada masa raja Alyattes mulai menghasilkan koin emas. Koin emas mulai dicetak dengan standar sebagai alat pembayaran. Koin emas yang dicetak  sudah diberi cap kerajaan Lydia dan juga cap yang menandakan nilainya.   

Penemuan alat pembayaran dalam perdagangan ini berkontribusi besar kepada kemajuan peradaban bangsa Lydia. Kerajaan ini kemudian menjadi pusat perdagangan dan menghasilkan kekayaan yang berlimpah kepada kerajaan.

Koin emas merupakan mata uang, sebab pada prinsipnya jika masyarakat bersedia menerima barang sebagai alat pembayaran maka dapat disebut dengan uang. Kehadiran koin emas menghapus kelemahan sistem barter yang sebelumnya dipraktekan dalam perdagangan.

Pada masa raja Croesus putra dari Alyattes berkuasa di Lydia pada tahun 560 sampai dengan 547 SM, semakin banyak emas yang dihasilkan.  Kepemilikan emas dalam jumlah yang sangat besar ini memberikan kekayaan yang berlimpah kepada Croesus, sehingga Croesus indentik dengan kekayaan. Di negara Eropa sampai saat sekarang terdapat ungkapan yang menunjukkan betapa kayanya seseorang dengan istilah “kaya seperti Croesus”.

Dari kekayaannya ini Croesus  mendanai pembangunan Artemis Temple di Ephesus, yang sampai saat sisa bangunannya masih dapat dilihat di daerah Turki dan  artefaknya masih dapat dilihat di British Museum. Bangunan ini dicatat sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dari budaya dunia masa lalu.

Artemis Temple ini menjadi saksi atas silih bergantinya kekuasaan dan juga menghadapi gempa bumi yang merusak bangunannya.

Namun sejarah mencatat akhir yang tragis dari Croesus. Pada saat pasukan Persia dibawah pimpinan Cyrus yang agung  melakukan invasi ke Lydia, Croesus mengalami kekalahan dan ditawan oleh pasukan Persia. Kerajaan Lydia berakhir dengan kekalahan ini dan kematian dari keluarga kerajaan.

Kemudian Artemis temple ini berganti penguasa, setelah Persia kemudian dikuasai oleh Alexander the great. Setelah kekalahan pasukan Alexander, Ephesus kemudian dikuasai oleh Romawi selama berabad abad. Pada akhirnya Ephesus menjadi daerah kekhalifahan Utsmaniyah dan sekarang masuk ke Wilayah Turki sebagai penerus dari Utsmaniyah.

Namun sejarah tetap mencatat bahwa bangsa Lydia sudah memperkenalkan kepada peradaban dunia mengenai alat pembayaran berbentuk koin emas. Peradaban yang bertahan sampai ribuan  tahun kemudian sebelum munculnya mata uang kertas.





Jumat, 12 Februari 2021

Gold Standard

Gold Standar

Salah satu poin terpenting dari kesepakatan Bretton woods ini adalah penetapan sistem moneter yang menggunakan standar emas. Mata uang negara negara lain di dunia dikaitkan dengan nilai tukar tetap terhadap mata uang dollar Amerika Serikat. Sementara mata uang dollar Amerika dijamin oleh emas dalam jumlah tertentu. 

Standar emas adalah sistem moneter dimana mata uang suatu negara yang nilainya dikaitkan dengan emas. Dengan standar emas negara setuju untuk mengkonversikan mata uangnya ke jumlah yang tetap dari emas. Negara yang menggunakan standar emas akan menetapkan harga yang tetap (fixed price) dari emas. 

Kemudian negara akan melakukan pembelian dan penjualan emas berdasarkan fixed price tersebut. Untuk menentukan nilai dari mata uang juga menggunakan fixed price. Sebagai contoh, jika AS menetapkan fixed price emas adalah $ 500 per ons, nilai dari dollar adalah 1/500 dari satu ons emas.

Alasan penggunaan mata uang dollar dalam sistem moneter dunia ini adalah karena setelah perang dunia, Amerika Serikat muncul sebagai negara yang secara militer dan ekonominya terbesar di dunia. Inggris negara kolonial super power abad pertengahan babak belur ekonominya akibat perang, demikian juga Jerman dan Jepang mengalami kehancuran akibat kalah perang.

Dengan gold standard ini maka setiap lembar uang yang dicetak oleh Amerika akan didukung oleh persediaan emas yang disimpan di Fort Knox. Ini diperlukan untuk menjaga kepercayaan negara yang menggunakan mata uang dollar dalam sistem perdagangan antar negara. 

Dalam perjalanannya Amerika terus perlu mencetak uang untuk membiayai perangnya di Vietnam yang berjalan bertahun tahun dengan biaya yang sangat besar. Turunnya harga emas dan kebutuhan Amerika untuk terus mencetak uang menyebabkan gold standar tidak lagi dapat dipertahankan oleh Amerika.

Amerika pada akhirnya harus mencetak uang melebihi dari cadangan emas yang dimilikinya, keputusan yang menyebabkan berkurangnya kredibilitas mata uang dollar.  

Meskipun tidak ada lagi gold standard, U$ tetap menjadi mata uang dunia.





Midas dengan Sentuhan Emas

Midas dengan Sentuhan Emas

Sistem pembayaran dengan menggunakan emas ini bisa jadi dimulai dari mitologi raja Midas. kisah dalam mitologi Yunani mengenai seorang raja yang atas jasanya kepada dewa diberi anugerah oleh dewa Dyonisius untuk memiliki kesaktian mengubah apapun yang disentuhnya  menjadi emas.

Bisa dibayangkan betapa kayanya Midas, tidak perlu dengan menabung emas tetapi hanya dengan menyentuh sesuatu akan berubah menjadi emas. Midas pastilah kemudian kaya raya. Namun segera Midas menyadari bahwa anugerah ini berubah menjadi kutukan. 

Semua makanan yang disentuhnya juga berubah menjadi emas, termasuk puterinya pun berubah menjadi emas. Midas kemudian datang lagi menghadap dewanya, sambil bilang “hai dewa, ternyata terlalu sakti juga membuat aku menderita, mohonlah  kesaktian ini dicabut lagi” .

Dewa menjawab ke Midas “ baiklah kalau itu yang kau inginkan, midas kau harus  cuci tangan di sungai Pactolus agar kesaktianmu hilang”. Midas segera membasuh telapak tangannya di Sungai Pactolus yang tidak jauh dari istananya.
Saking banyaknya emas yang lengket di tangannya kemudian sungai Pactolus ini penuh dengan deposit emas .

Sungai Pactolus ini terletak di wilayah kerajaan Lydia, sekarang masuk wilayah kekuasaan Tayib erdogan. 

Raja yang berkuasa di Lydia saat itu adalah Croesus. Dengan emas yang melimpah dari cuci tangannya Midas ini Croesus kemudian mulai mencetak Koin emas sebagai alat pembayaran. 

Koin yang dicetak  sudah diberi cap yang menandakan kerajaan Lydia dan juga menandakan nilainya.   Penemuan koin emas sebagai alat tukar kemudian menjadikan Lydia sebagai pusat perdagangan dan menghasilkan kekayaan yang berlimpah kepada kerajaan Lydia.
Kemunculan emas sebagai alat pembayaran menggantikan system barter yang menghambat kemajuan ekonomi dan perdagangan. Karena barter memerlukan adanya double coincidence of wants, hal yang sulit dalam perdagangan.




Sabtu, 30 Januari 2021

Sejarah Gadai di Jepang

Sejarah Jasa Gadai di Jepang


Di jepang bisnis gadai ini sudah hadir sejak masa keshogunan Kamakura (1192-1333).  Dikenalnya Kanekashi (money lenders) ini bersamaan dengan masa mulai munculnya kasta Samurai. 

Di Jepang bisnis gadai sejak awal memang  hadir karena kebutuhan akan lembaga keuangan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Toko gadai menjalankan bisnisnya untuk mendapatkan keuntungan dan bukan karena alasan agama.  Di Eropa awal keberadaan Jasa Gadai adalah karena agama atau menghilangkan riba. 

Jumlah toko gadai meningkat dengan tajam pada era Meiji (1868-1912), bersamaan dengan hadirnya Lembaga keuangan modern seperti Bank di Jepang.   Pada awal abad ke 20 bisnis gadai ini sudah tersebar merata ke seluruh wilayah Jepang.

Pada tahun 1924 biro statistik Jepang mencatat ada 18.807 toko gadai atau 379 unit per prefektur. Jumlah toko gadai ini 2,5 kali lebih banyak dibandingkan dengan jumlah Bank yang ada di Jepang pada saat itu. Jumlah toko gadai juga jauh lebih besar (66,5 kali) dibandingkan dengan usaha pinjaman personal (Personal Loan).

Pola pemberian pinjaman gadai untuk customer yang pertama kali melakukan peminjaman adalah dengan melalui mekanisme referral.  Customer yang pertama kali menggadaikan kolateralnya diminta untuk mendapatkan rekomendasi dari pelanggan eksisting. 

Untuk calon peminjam yang tidak memiliki rekomendasi maka akan dilakukan pengecekan tempat tinggal oleh staff dari toko gadai, untuk memastikan kalau barang yang digadaikan bukan barang curian. Namun toko gadai tidak akan melakukan penilaian terhadap kondisi keuangan, kepemilikan rumah atau Kesehatan dari calon peminjam.

Sebaliknya bagi customer yang sudah mendapatkan rekomendasi dapat langsung menanda tangani kontrak pinjaman tanpa ada pengecekan sebagaimana yang dilakukan untuk calon peminjam yang tidak memiliki rekomendasi.

Penetapan nilai taksiran untuk kolateral sama dengan proses gadai di berbagai negara lainnya. Kolateral dinilai berdasarkan harga pasar second hand. Perbedaan gadai di Jepang dengan negara lain adalah pada penjualan kolateral, kelebihan nilai jual dari kewajiban yang harus dipenuhi oleh customer akan menjadi miliki dari toko gadai. 




Senin, 25 Januari 2021

Terbang melintasi Atlantik

Kisah Charles Lindbergh

(source : Loonshots, Safi bachal, Gramedia, Jakarta, 2019).

Lindbergh merupakan anak muda yang pada usia 25 tahun berhasil menjadi orang pertama yang berhasil menempuh penerbangan melintasi samudera atlantik dari New York ke paris. Dengan tubuh yang tinggi dan atletisnya Lindy menerima tantangan berhadiah $ 25.000 untuk terbang melintasi Samudera Atlantik.

Lindy Take off dari bandara Roosevelt Long Island pada tanggal 20 Mei 1927 dengan menggunakan pesawat bermesin tunggal bernama spirit of st.louis. Pesawat Lindbergh kemudian berhasil mendarat di bandara Paris setelah menempuh perjalanan selama 33,5 jam. Penerbangan bersejarah yang bagi sebagian warga Amerika disejajarkan dengan penjelajahan Columbus hingga menemukan benua Amerika.

Lindbergh berhasil mewujudkan imajinasi jutaan orang yang ingin bisa terbang melintasi Samudera Atlantik menghubungan benua Amerika dengan Benua Eropa. Penerbangan yang disebutkan menghubungkan dunia lama dengan dunia baru, sebelumnya sebanyak 18 orang sudah melakukan percobaan dan gagal melewatinya. Karena besarnya risio yang dihadapi  tidak ada perusahaan asuransi yang mau menerbitkan polis untuk uji coba yang dilakukan oleh Lindbergh.

Penerbangan ini sejak awal sudah mendapatkan banyak sekali perhatian di koran Amerika Serikat, meskipun Lindy bukanlah seorang yang senang dengan publisitas namun tidak mengurangi perhatian publik atas prestasinya ini. Berjuta juta warga Amerika  menyambut kepulangannya di Amerika, selama 3 bulan Lindy melakukan tur keliling di 82 kota Amerika. Lindy mendapatkan apa yang disebut dengan Social proof atas keahliannya di dunia penerbangan.

Atas prestasi yang diakui oleh dunia ini Lindy kemudian mendapatkan banyak sekali penawaran pekerjaan. Namun Lindy kemudian memutuskan hanya akan mengambil pekerjaan yang berkaitan dengan dunia penerbangan. Meskipun berbagai penawaran dari studio film, perusahaan kosmetik hingga berbagai kegiatan sosialita disampaikan kepadanya.

Kemudian Lindy bekerjasama dengan Juan Terry Trippe pemilik perusahaan penerbangan Pan American Airways untuk membangun dan mempromosikan perusahaan Pan Am. Lindy dengan keahlian dan pengalamannya memberikan berbagai nasehat kepada trippe untuk mengembangkan Pan Am Airways. 

Berbagai jalur penerbangan baru berhasil dibuka, tidak semuanya berjalan dengan mudah. Namun kegagalan yang terjadi menjadikannya sebagai pintu masuk untuk melakukan perbaikan. System navigasi baru dipasang di pesawat untuk mencegah pesawat kehilangan arah selama penerbangan yang selama ini mengandalkan Kompas dan visual. 

Pada tahun 1929 Pan Am berhasil terbang ke 60 Bandara di 28 negara, dengan membawa penumpang sebanyak 20 ribu penumpang. Pan Am Airways kemudian menjadi perusahaan penerbangan terbesar di dunia pada tahun ini.

Pelajarannya adalah jika sudah mendapatkan pengakuan atas prestasi yang dihasilkan maka orang akan percaya dengan nasehat yang disampaikan.





Emas Menjaga Daya Beli

Emas Menjaga Daya Beli

Salah satu manfaat berinvestasi dalam bentuk emas adalah dari sifatnya yang dapat menjaga daya beli  dikemudian hari,  bisa disebut bahwa emas ini aset yang harganya tidak digerus oleh inflasi. Berbeda dengan uang semakin hari daya belinya semakin turun. Bagi umat muslim akan terasa sekali kalau biaya naik haji setiap tahun naik, harga rumah semakin naik dan juga harga mobil selalu naik. Hal ini terjadi karena ukurannya adalah uang. 

Sebagai ilustrasi mengenai kemampuan emas untuk menyimpan nilai  dapat dilihat dari perhitungan menabung uang dengan menabung emas pada saat akan membeli mobil. 

Pada bulan September 2015 harga satu unit Toyota Kijang Innova varian V Diesel matik berdasarkan harga yang ditawarkan adalah Rp. 376.000.000,-per unit  (otomotif Kompas, 10 Nov.2015). Harga emas pada bulan September 2015 sesuai dengan harga jual yang dikeluarkan oleh Antam adalah sebesar Rp. 547.000,- per gram. 

berarti jika kita konversikan harga mobil tersebut dengan harga mobil maka akan kita dapatkan angka bahwa  satu unit Toyota Kijang varian V Diesel sama dengan emas seberat 687 gram.

Kemudian bandingkan jika kita ingin membeli Toyota Kijang varian V Diesel di bulan September 2020, harganya mencapai Rp. 440.900.000,- per unit (carmudi.co.id). Harga emas per 1 September 2020 yang diterbitkan Antam adalah Rp. 1.084.000,- per gram. Berarti untuk membeli Kijang Innova varian V Diesel tahun 2020 diperlukan 407 gram emas. Selisih sekitar 280 gram,  jauh lebih rendah dibandingkan berat emas untuk membeli innova 5 tahun sebelumnya.

Contoh di atas menggambarkan salah satu manfaat berinvestasi emas. Memang emas tidak langsung mendatangkan cash flow (kecuali dijual) tetapi menjaga kekayaan pemiliknya tidak digerus oleh inflasi. namun sebaiknya tinvestasi tetap dilakukan variasi. Jika emas sudah banyak sebagian bisa dipakai untuk membangun  rumah kost agar aset menjadi produktif dan bekerja bagi pemiliknya.








Kamis, 20 Agustus 2020

steve jobs leadership series

 

Investasi Emas



Pada bulan september 2011 harga emas pernah juga mencapai sekitar US$ 1900 / Tr ounce, dan dalam 6 bulan setelah itu turun sampai nyaris ke angka US$ 1.100..
Faktor penggeraknya sepertinya dulu juga mirip, karena uang investor besar mencari tempat aman untuk parkir sementara karena turunnya nilai surat berharga di AS, turunnya nilai mata uang US dan uncertainty.
Begitu kebijakan quantitave easing dikeluarkan maka arus balik terjadi, dengan cepat harga emas turun sampai sekitar 30%.
Konon katanya Trump akan membebaskan berbagai pajak untuk stimulan ekonomi AS yang resesi, pasti akan mendorong daya belanja warganya dan menguatkan ekonomi AS. Pastinya akan memperkuat kembali surat berharga korporasi AS dan mata uang US$.
Kenaikan emas bisa karena faktor supply and demand, misalnya karena musim festival keagamaan depvali di India, menjelang lebaran di Indonesia. Bisa karena melemahnya mata uang rupiah terhadap US$. Bisa juga spekulasi.
Barangkali juga kenaikan harga emas dunia yang sangat cepat itu bukan pembelian secara fisik, bisa jadi hanya elektronik, Paper gold.
Sepertinya juga tidak ada perusahaan tambang yang melonjak produksinya atau juga tidak ada bank sentral yang melepas cadangan emasnya besar besaran (?).
Sehingga dijualnya pun secara paper tanpa ada fisik emasnya. Ini bisa jadi bisnis gaya george soros yang membuat indonesia nyaris bangkrut di krismon 1998.
Kalau mau invest emas sebaiknya jangan ikut ikutan dan berniat cari untung jangka pendek. Jadilah investor yang punya rencana jangka panjang, bisa diniatkan menabung emas dulu untuk kelak beli rumah, untuk biaya anak kuliah atau bagi umat muslim modal naik haji ONH Plus.
Beli terus emas secara rutin tanpa tendensius, kalau katanya harga akan terus naik baru beli, naik sedikit langsung jual. Kita bukan keluarga Rockefeller yahudi yang bisa mengatur ekonomi dunia.
Emas itu secara jangka menengah dan panjang, dilihat dari historical data akan melindungi aset kita dari penurunan nilai atau menjamin daya beli kita akan tetap kuat...




Kamis, 13 Agustus 2020

lelang online

Lelang Online
Hari ini kembali ke balai lelang JBA, menjual mobil rental yang sudah jatuh tempo. Beberapa bulan lalu sebelum mengenal PSBB saya juga kesini untuk survei dan menjalin kerjasama.
Situasinya sungguh berbeda, ruang lelang yang sebelumnya ramai, hiruk pikuk dan terang sekarang sepi dan gelap.
Balai lelang ini dan seperti balai lelang lainnya benar benar mengalami masa sulit disaat awal PSBB, Maret sd Mei nyaris tidak ada lelang. Bisnis drop karena tidak bisa dijalankannya lelang.
Namun sejak Juni secara perlahan kembali pulih, lelang mulai berjalan. Namun sekarang lebih banyak lelang online. Secara cepat ekosistem menyesuaikan new normal dan beradaptasi.
Meskipun sebelum era PSBB sudah ada lelang online namun pembeli tetap lebih suka hadir langsung offline. Ternyata covid yang mendorong orang berubah, mau belajar dan beradaptasi menggunakan aplikasi digital.
Sepertinya meskipun besok vaksin sudah ditemukan, orang akan tetap lebih suka lelang online. Covid sudah merubah kebiasaan lama.

Sabtu, 08 Agustus 2020

Bisnis "Built to adapt"

The river on river Chocoluteca 

 

Barangkali Sebagian besar orang di Indonesia belum pernah mendengar nama sungai Choluteca, ini nama sungai yang berada di Honduras, negeri yang nun jauh  di Amerika Tengah. Negeri dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat, sering dilanda badai dan angin topan.

 

Untuk menghadapi kondisi alam yang tidak bersahabat ini maka pemerintah Honduras membangun jembatan yang kuat menghadapi cuaca ekstrim tersebut menyeberangi sungai Choluteca. Dibayarlah kontraktor dari Jepang untuk membangun jembatan ini di tahun 1996, dan dua tahun kemudian jembatan selesai dibangun.

 

Segera saja jembatan ini menghidupkan denyut ekonomi daerah sekeliling chocoluteca dan menjadi jembatan kebanggaan bagi masyarakat Honduras.

 

Sampai kemudian pada bulan Oktober di tahun 1998, terjadilah badai yang luar biasa besarnya menerjang daerah chocoluteca. Apa yang terjadi ? seluruh Kawasan disekitar Chocoluteca habis diterjang badai, banjir menerjang dan menelan apa saja di kawasan itu.

 

Setelah badai dan banjir berlalu jembatan chocoluteca masih berdiri kokoh, terbukti kontraktor Jepang tadi sudah membangun jembatan yang sanggup menghadapi cuaca ekstrim.

 

Namun daerah sekeliling jembatan sudah berubah, banjir sudah menghancurkan infrastruktur di sekitar jembatan. Jalan jalan sudah hilang ditelan banjir dan sungai kemudian membentuk aliran baru disisi jembatan.

 

Jadilah kemudian jembatan cocho menjadi jembatan “for nobody” dan “nowhere”, jembatan yang tidak bisa dipergunakan oleh siapapun dan terletak di lokasi yang antah barantah.

 

Apa hikmahnya dari ini semua ? ibaratnya jembatan choco tadi adalah perusahaan, karier atau bisnis kita, bersiaplah menghadapi perubahan yang terjadi di sekeliling kita. Bahwa karier kita juga tergantung dengan lingkungan, perusahaan juga memiliki ekosistem yang mempengaruhinya, tidak ada yang berdiri sendiri.

 

Metafora jembatan choco tadi menjelaskan kalaupun kita orang hebat sekalipun, kita hanya akan berfungsi dengan baik kalau disupport oleh orang disekeliling. Tantangan yang dihadapi adalah seringkali kita berfokus pada usaha “best solution” terhadap masalahnya, tanpa menyadari bahwa seringkali masalahnya yang berubah.

 

Jembatan Choco menjadi metafora yang relevan pada masa kini, bahwa kita tidak perlu berusaha “built to last” namun for nobody tetapi yang terpenting bisa “built to adapt”. Menjadi bagian yang bermanfaat dan saling mendukung bagi kerier dan perusahaan.

 

 

Sumber : The bridge on River Chocoluteca, prakas iyer.

Jumat, 07 Agustus 2020

Boiling Frog

Kisah Warung Meneer

Dulu waktu saya tinggal di medan sekitar tahun 2009 ada warung tempat langganan saya dan keluarga belanja, mulai dari beli beras, Indomie, coca cola dan juga tempat mengajak anak anak beli ice cream, permen dan roti kesukaannya. Warung ini dekat rumah dan kami kenal baik dengan pemilik dan penjaga warung itu.

Warung kampung ini khas, akrab dan ramah, tapi sedikit kotor, barangnya juga kurang bersih karena berdebu,mungkin sebagian rotinya sudah kadaluarsa, lampunya sedikit redup dan penjaganya yang merangkap jadi kasir masih menghitung menggunakan kalkulator.

Tapi pada masanya inilah warung terbesar dan terlengkap di dekat perumahan, jadi menjadi pilihan utama. Warung warung kecil yang mencoba bersaing dengan warung meneer ini belum mampu menyaingi warung pak meneer ini, hanya menjadi pelengkap saja.

Seiring berjalannya waktu, dekat perumahan kami mulai berdiri Indomaret. Jarak antara warung dengan Indomaret hanya sekitar 200 meter dan warung meneer tetap beroperasi seperti biasa. kasirnya tetap pakai kalkulator dan ruangan tetap panas dan berdebu karena lokasinya pas dipinggir jalan yang ramai.
Tapi tidak sampai satu tahun sejak berdirinya indomaret, barang jualan di warung meneer terlihat semakin sedikit. Meja kasir yang dulu cukup ramai, bayarpun ngantri, sambil sedikit berkeringat karena warungnya gak pakai AC, Sekarang sepi tidak ada antrian lagi.

Dulu kasirnya ada 2 orang, satu menghitung harga yang harus dibayar pelanggan pakai kalkulator dan satunya memasukkan barang yang dibeli ke kantong asoy, Sekarang karena sepi tinggal kasirnya saja.

Pada akhir kisah ini, warung meneer pun akhirnya tutup. kemungkinan semua pelanggannya berpindah ke Indomaret. Semuanya lebih suka belanja di Indomaret, barang dagangan nya baru, lebih bervariasi. Karyawannya berpakaian rapih dengan tokonya yang jauh lebih bersih dan sejuk karena pakai AC. Indomaret menawarkan layanan sebagaimana yang diharapkan oleh konsumen.

Pak Meneer tidak menyadari bahwa lingkungan sudah berubah. Ibarat tamsil boiling frog, kodok dalam panci yang ditaruh diatas kompor. Perubahan suhu air dalam panci pasti datang dengan perlahan, jika pak Meneer tidak cepat menyadari perubahan lingkungannya dan masih berfikir seperti masa jayanya, maka sampai pada waktunya dimana perubahan sudah berlangsung dramatis dan mematikan bisnis yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan.

Bisnis harus selalu melakukan inovasi untuk tetap survive...

Balai lelang

Build to adapt

Covid merubah semuanya, dulu sebelum merebaknya covid yang namanya balai lelang adalah pusat kerumunan manusia. Banyak sekali peserta lelang yang datang untuk membeli mobil, penawaran silih berganti sampai ditemukan harga tertinggi. Pasar second mobil juga tumbuh dengan pesat.
pada masa covid ini balai lelang tetap berjalan, namun dengan suasana yang jauh berbeda. Lelang di Caready yang merupakan perusahaan dari Blue Bird group yang biasanya dilaksanakan di dua line, sekarang hanya satu line.

Karena sepinya peserta lelang dan memenuhi protokol Covid 19, mobil yang akan dilelangkan tidak bergerak ke panggung. Calon pembeli lelang juga hanya hadir sebentar melihat kondisi mobil dan kemudian lebih suka mengikuti lelang melalui aplikasi online. karena sepinya maka disaat pelaksanaan lelang pengunjung kita bisa berdiri jalur jalannya mobil menuju panggung.

Tapi disisi lain jumlah barang yang akan dilelang semakin meningkat karena terjadi peningkatan mobil dan sepeda motor yang ditarik oleh leasing . Seperti biasanya penyebab penarikan mobil atau sepeda motor ini disebabkan kegagalan nasabah untuk melanjutkan pembayaran angsuran. Alasan utama gagal bayar ini karena semakin banyaknya karyawan yang terkena pemotongan penghasilan sampai dengan terkena PHK.

Salah satu perusahaan yang tetap exist di bisnis ini adalah Caready , karena jauh sebelum wabah Covid sudah membangun aplikasi lelang online-nya. Pada saat merebaknya Covid juga terjadi pergeseran perilaku pembeli lelang, dari sebelumnya diramaikan oleh peserta lelang yang hadir secara fisik sekarang peserta lelang online yang hadir semakin meningkat.
Namun penjualan dalam setiap event lelang tentu tidak akan bisa setinggi dibandingkan masa sebelum covid, namun bagi banyak perusahaan meskipun tidak bisa menjual sebesar jumlah sebelum terjadinya covid namun yang paling penting bisnis tetap bisa survive
Covid semakin mempercepat proses digitalisasi disemua aspek bisnis. perusahaan harus bisa menyesuaikan pola operasional dan teknologinya untuk bisa beradaptasi dengan perubahan "built to adapt" merupakan jalan yang harus dipilih.
Dalam ekosistem bisnis yang membentuk supply chain yang saling terkait , keseluruhan supply chain harus benar benar dalam kondisi baik. Jika salah satu mata rantai putus maka rusak juga keseluruhan ekosistem. bagi balai lelang maka mulai dari supply mobil dan akan dijual di lelang, perusahaan pembiayaan, showroom mobil second dan tentu juga daya beli konsumen di pasar second akan menjadi mata rantai yang saling terkait dan mendukung.

Perusahaan yang kokoh "built to last" sekalipun jika berhadapan dengan kondisi dimana ekosistem yang runtuh atau tidak lagi menjadi bagian supply chain yang support juga akan sulit bertahan.



Minggu, 02 Agustus 2020

Do People Buy It?

When a Brand Stands up for Racial Justice, Do People Buy It?
by Geeta Menon and Tina Kiesler
July 31, 2020
 

Recent protests demanding social justice and the affirmation of the Black Lives Matter (BLM) movement have provoked a flurry of activity among corporations as they drop brands that have racist connotations, reposition other brands with ambiguous to outright offensive racial implications, explicitly state their solidarity with the movement, and donate money to racial justice causes.

But do consumers perceive these actions as authentic — especially when many of these companies are not Black owned and/or have a lackluster history of Black corporate leadership? And will these strategies result in long-term brand loyalty?

What is brand authenticity?
The literature defines brand authenticity as the extent to which consumers perceive a brand to be faithful to itself (continuity), faithful to its customers’ expectations for the brand to deliver on its promises (credibility), motivated by caring and responsibility towards the community (integrity), and reflecting values that consumers consider important (symbolism).

Continuity and credibility are focused solely on the company and its customers, so these actions can be said to have a corporate orientation. Integrity and symbolism, on the other hand, are more focused on social issues outside the immediate scope of the company, and so these actions can be said to have a societal orientation.

While both orientations are important and valid ways of expressing a brand’s authenticity, actions with a societal orientation are likely to be perceived as more authentic when it comes to social issues such as racial justice.

In addition to orientation, brands can also choose to participate in these actions more actively or more passively. Specifically, they can choose to play a supportive non-racist role as an ally, indicating support for change with limited action, or they can choose to be an activist proactively involved in anti-racist actions and campaigns.

As marketing professors who have studied consumer relationships with brands, we present a framework to help companies understand how authentic their brand actions will appear to consumers. By examining the intersection of orientation (corporate or societal) and type of participation (ally or activist) as presented in the table below, several brand actions of varied levels of authenticity emerge.

Corporation-Oriented Actions:
Atone: To make amends for past wrongdoings. These are corporation-oriented actions that companies take as allies. Essentially the bare minimum, these actions show that the corporation is at least aware of the need to act given past brand decisions that fly in the face of social justice. For example, if a company has products with negative racial connotations, such as Quaker Oats’ brand Aunt Jemima, it can choose to discontinue the brand. However, atoning for past sins with a mere withdrawal or a repackaging of a product, while important, is both fairly passive and self-focused, and as such, consumers likely to view these actions as low in authenticity.

Allure: To proactively attract consumers. These are actions that are still corporation-oriented, but are more proactive than mere atonements: A corporation can be an activist and support a cause in a way that’s also directly in their self-interest. For example, Aerosoles announced it would support racial justice and combat discrimination by donating 10% of sales proceeds to the NAACP. This is a proactive approach to supporting an important social issue, but it is still self-serving, since it will also bring in more revenue as consumers seek to support the cause through their purchases. As such, consumers are likely to view these sorts of actions as low-medium in authenticity. (Note that this is different from another popular strategy in which brands donate 100% of their profits or a fixed dollar amount. In these cases, corporations do not benefit as directly from increased sales, so we would rate this strategy medium-high in perceived authenticity.)

Societally-Oriented Actions:
Acknowledge: To recognize a broad social issue. These actions are relatively passive, but they acknowledge social issues in a wider context than limited, corporation-oriented actions. As allies, corporations take societally-oriented actions in support of racial justice that might not lead them to profit directly, but are also unlikely to have a negative impact on the business. Netflix’s curation of BLM content, for example, is an action that supports a social mission and aligns with their business model, but is unlikely to drive significant new revenue. As such, consumers are likely to view the authenticity of this brand action as medium-high.

Advocate: To actively support a cause or policy. To quote Ibram Kendi, author of How To Be An Antiracist, “To be anti-racist is a radical choice in the face of history, requiring a radical reorientation of our consciousness.” To advocate for important social issues in a manner that will feel truly authentic to consumers, corporations must take an active, societally-oriented approach — one that may have even a potentially harmful impact on business goals. Nike is a great example of a company that took a stand without obvious self-interest: When Colin Kaepernick was abandoned by the NFL after kneeling during the national anthem, Nike made the risky decision to use him as the face of their Just Do It campaign. Despite widespread backlash, the company did end up seeing a surge in sales. Because of the corporate risk and the implications for broad racial justice, this campaign exemplifies a high-authenticity action.


Perceived Authenticity: Medium-high Perceived Authenticity: High
Source: Geeta Menon and Tina Kiesler
Today’s consumers are vocal about social issues, and they are quick to take disingenuous corporations to task. A majority of Americans of all generations — 60% of the U.S. population — say that how a brand responds to racial justice protests will influence whether they buy or boycott the brand in the future. Additionally, 60% say brands should take steps to address the root causes of racial inequity and 57% say brands must educate the public.

And Millennial and Gen Z consumers have expectations of brand authenticity that far exceed those of generations before them. These adult consumers are the most racially and ethnically diverse in American history, and they want corporations to stand for something beyond traditional consumer benefits and product quality.  A June 2020 survey found that 69% of Millennial and Gen Z consumers think brands should be actively involved in the BLM movement. To connect with these younger consumers, brands need to take a stand against racial injustice in a way that is authentic to the corporation as well as their customers.

Armed with this framework for brand actions outlined in this article, corporations can strategically assess the level of authenticity of different actions, enabling them both to better understand the impact of past actions and to better gauge how future planned actions are likely to be perceived. For brands that want to build a reputation as role models with a significant societal impact, the way forward is clear: The most authentic brand actions are ones that proactively advocate societally-oriented, anti-racist actions. These are actions that come with some risk, but they are also most likely to be rewarded with real consumer loyalty.